27 June 2011

Sertifikat Paten

Hak Paten Internasional dan Hak Paten Nasional 


Sebagai wujud bahwa produk pupuk hayati Bio P 2000 Z adalah teknologi produktivitas organik sebagai karya unggul dan tunggal maka dilakukan legalitas  produk tersebut dengan  mendaftarkan  hak paten. Sebagai hasil diperoleh hak paten internasional dengan  nomor: PCT/ID 01/00003;  

Sedangkan hak paten paten nasional diperoleh dengan nomor paten: ID 0 000 438 S, P20000367, P20000368, S2000073, S2000074 sebagai karya-karya besar dari seorang penemu muda (Ir. Ali Zum Mashar, M.A, M.S., ID)


 Gambar 1. Sertifikat Paten untuk Produk Bio P 2000 Z


Gambar 2. Sertifikat Paten Untuk Proses Pembuatan Bio P 2000 Z

Hasil Penerapan Teknologi

Hasil penerapan teknologi
A. Hasil Penelitian
Tabel 1   Beberapa Hasil Penelitian Penggunaan tek Bio Perforasi Pada Tanaman Padi 
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan.


No
Lokasi
Tanpa
Pakai
Selisih
P 2000 Z
P 2000 Z
Prod/ ha
%
(kg)
(kg)
Abs (kg)
Kenaikkan
1
Purwakarta (Jabar)
6225
6925
700
11.24%
2
Lahan sejuta ha (Kalteng)
2200
4200
2000
90.91%
3
Subang (Jabar)
6560
7160
600
9.15%
4
Dramasraya
4150
8450
650
104 %
5
Banyuasin  (Sumsel)
4750
5800
1050
22.11%
6
Tanapuli Sel (Sumut)
5650
6750
1100
19.47%
7
Badung (Bali)
6250
6800
550
8.80%


Kedelai Untuk Makanan, Pakan Ternak dan Minyak

KEDELAI UNTUK MAKANAN, PAKAN TERNAK DAN MINYAK
(SOYBEAN FOR FOOD, FEED AND FUEL)




0leh: Dr. Ir. Listyanto, MSc.







KEDELAI UNTUK MAKANAN, PAKAN TERNAK DAN MINYAK BAKAR
(SOYBEAN FOR FOOD, FEED AND FUEL)
Oleh:  Dr. Ir. Listyanto, MSc. [1])

A. Pendahuluan:
Kedelai sebagai makanan manusia  (food) dapat diketahui dari perannya merupakan salah satu bahan komoditas penting dalam sembilan kebutuhan pokok rakyat Indonesia. Ia cukup populer sebagai bahan baku pembuatan tempe, tahu, kecap, juga dijadikan susu. Kendati tingkat konsumsi kedelai di Indonesia masih rendah, yakni 8 sampai 9 kg per kapita/tahun, namun Indonesia adalah importir kedelai terbesar di Asia. Pada tahun 2004 Indonesia masih mengimpor sebanyak 1,1 juta ton dan pada 2006 impornya mencapai 1,2 juta ton dengan nilai mencapai Rp 3 triliun/tahun.
Selain sebagai makanan langsung berupa biji dan hasil olahan, secara besar-besaran kedelai dapat dijadikan minyak goreng. Data Oil Word 2004-2005, menunjukkan bahwa dari 136,94 juta metrik ton konsumsi minyak makan (edible oil) dunia, kedelai menyumbang 32,68 juta metrik ton (23,9%) dan Minyak Goreng Sawit (MGS) menyumbang 33,14 juta metrik ton (24%). Selebihnya dari minyak matahari, kanola, zaitun dan jagung (Khomsan A., 2006). Sebelumnya minyak kedelailah yang paling tinggi pangsanya.
Kedelai juga sebagai pakan ternak (feed) yang termasuk bahan kebutuhan utama. Baik untuk sapi, ayam, ikan dan lain-lainnya. Pakan ternak dari kedelai ini pada umumnya dihasilkan dari ampas kedelai (bungkil) yang telah diambil minyaknnya. Kebutuhan bungkil kedelai sebagai pakan ternak saat ini menduduki posisi kedua setelah jagung.
Beberapa tahun belakangan ini, dengan terjadinya krisis minyak tanah (fuel) maka telah dilakukan research menggunakan kedelai sebagai bahan minyak bakar (fuel). Namun sampai saat ini penggunaan kedelai untuk minyak bakar tersebut masih dipengaruhi oleh adanya kebutuhan akan kedelai untuk food dan feed yang masih belum tercukupi. Disamping itu, harga proses pengolahan masih lebih tinggi dibandingkan dengan harga minyak bumi. Namun dengan semakin menipisnya cadangan minyak bumi tersebut maka merupakan peluang paling tinggi penggantinya adalah dari kedelai.  Walaupun ada sumber bahan fuel dari tanaman lain, namun kebanyakan tanaman tersebut menghisap unsur hara tinggi. Sehingga tahun ke 3 dan seterusnya menjadi penurunan produktivitas. Hal ini lain dengan tanaman kedelai justru membuat  tanah menjadi subur, sehingga kontinuitas produksi terjaga.

B. Permasalahan selama ini.
  1. Pada tahun 1980-an, kedelai merupakan tanaman kedua terpenting sesudah beras. Posisi itu lambat laun menurun dan digantikan oleh jagung.  Jika produksi kedelai nasional pada tahun 2000 berjumlah 1.017.600 ton maka pada tahun 2004 hanya 721.300 ton (menurun 29,1%) pada tahun 2006 meningkat 780.808 ton, sedangkan jagung produksinya pada tahun 2000 berjumlah 676.900 ton meningkat 15,4% menjadi 11.162.800 ton pada tahun 2004.
    Luas tanam kedelai di Indonesia pada tahun 2000 mencapai 824.500 Ha, pada 2004 tinggal 563.000 ha (turun 31,7%). Padahal sepuluh tahun sebelumnya (1992) luas tanam kedelai 1,67 juta ha, berarti telah terjadi penurunan lebih separuhnya.
  2. Tanaman kedelai  sebelum ditemukan varietas baru rawan terhadap hama penyakit seperti ulat tanah pada musim hujan (kedelai tidak dianjurkan tanam pada Musim Hujan), lalat bibit, ulat pemakan daun, penggerek polong, penggrek batang, dll. Belum lagi pengolahan tanah yang maksimal (harus dibajak dan digaru) dan pembuatan pembubunan tanah yang memerlukan tambahan biaya tenaga kerja. Sehingga biaya total kedelai jauh lebih tinggi daripada jagung.
  3. Hasil di Indonesia hanya 1,3 ton, hanya memberikan keuntungan Rp 2,25 juta/ha, sedangkan dibandingkan di daerah subtropis kedelai mampu berproduksi lebih tinggi, berkisar 2- 4 ton ose kering/ha. Argentina misalnya mampu menghasilkan kedelai 2,78 ton/ha, Amerika Serikat wilayah selatan sebesar 2,87 ton/ha, Brasil 2,67 ton/ha, dan RRC sebesar 3,15 ton/ha. Pada tahun 2006 produsen utama kedelai dunia adalah Amerika 86,8 juta ton, Brasil 56,0 juta ton, RRC 16,2 juta ton dan Argentina 42,5 juta ton (Sinar Tani, 2006)
 

20 June 2011

Mikroba Ajaib Pengganti Pupuk


BOGOR–Ali Zum Mashar, seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), berhasil menemukan mikroba yang dapat mengembalikan kondisi kesuburan tanah. Berkat penemuannya tersebut, Mahasiswa S3 program studi Ekonomi Sumber Daya Lingkungan ini memperoleh penghargaan Hak kekayaan Intelektual Luar Biasa tahun 2009.

Mikroba yang diberi nama BIOP 2000 Z ini, kata Ali, mempunyai prinsip kerja yang cukup unik. “Mikroba ini dapat mencari dan menemukan potensi tersembunyi yang ada di dalam tanah. Jadi kayak google (mesin pencari situs di internet, red) gitu,” ucapnya kepada wartawan, Kamis malam (29/10).

Dengan memberdayakan mikroba ini, ujar Ali, tanah yang berpasir pun dapat disuburkan. “Segala jenis tanah dapat disuburkan kembali. Meskipun tanah itu tanah bekas tambang, tanah berpasir, atau tanah gambut,” katanya.

05 June 2011

Budidaya Sawit di Lahan Gambut


Budidaya kepala sawit di lahan gambut mempunyai suatu tantangan tersediri. Lahan gambut merupakan lahan yang berpotensi tinggi, namun dalam kondisi tidur. Hal ini dapat diketahui bahwa kandungan bahan organik di dalam lahan gambut sangat tinggi, bahan tersebut merupakan sumber unsur hara yang sangat potensial.

Pemanfaatan lahan gambut untuk lahan pertanian yang subur telah terjadi di berbagai daerah, di luar negeripun lahan-lahan subur di benua Amerika, Canada, dan Amerika Tengah dan Amerika Selatan (Argentina, Brazil dan Chili) sebagian berasal dari lahan gambut. Demikian pula lahan di Indonesia sendiri sebagian berasal dari lahan gambut. Khusus untuk budidaya tanaman sawit sudah banyak lahan gambut yang digunakan.

Reklamasi Lingkungan Dengan Bio P 2000 Z

Sebelum: kondisi tanah rusak
Kemampuan Bio P 2000 Z tidak terbatas pada perbaikan kualitas dan kuantitas budidaya tanaman, tapi dapat juga dikembangan untuk memperbaiki kondisi tanah yang sudah rusak seperti tanah bekas tambang.

Salah satu uji coba reklamasi tanah yang dilakukan tim Bio P 2000 Z adalah reklamasi tanah boksit yang miskin unsur hara. Pada pengujian ini tanah dipulihkan kembali "kesehetannya" sehingga subur dan ditanami pohon Jabon (Anthocephalus cadamba).